Rumah merupakan sebuah tempat tinggal yang wajib dimiliki setiap orang. Dengan memiliki rumah pribadi orang bebas melakukan segala kegiatan tanpa mengganggu pihak lain.

Bahkan, tak jarang ada orang yang memiliki desain rumah yang unik demi mewujudkan impiannya. Seperti dilakukan Muhammad Jusuf Sokartara (71) asal Medan. Pria kelahiran Berastagi, 14 Maret 1944, ini membangun rumah berbentuk sepatu sesuai dengan impiannya dulu.

Rumah itu dibangun dengan panjang sekitar 9 meter beralamat di Jalan SMA Negeri 2, Karang Sari, Polonia, Medan. Meski belum sepenuhnya rampung, tetapi Jusuf mengaku puas bisa membangun rumah impian yang diberi nomor 13 itu.

Selain rumah Jusuf, terdapat beberapa rumah unik lainnya yang berbentuk sepatu. Berikut rumah berbentuk sepatu yang dihimpun merdeka.com:

1. Jusuf, pria asal Medan bangun rumah impian berbentuk sepatu

 

Laki-laki bernama Muhammad Jusuf Sokartara (71) ini terbukti tangguh. Dia selalu mengejar keinginannya, termasuk untuk membangun rumah unik berbentuk sepatu.

Rumah itu kini berdiri tegak di tengah lahan di Jalan SMA Negeri 2, Karang Sari, Polonia, Medan. Rumah bercat dominan putih berlantai tiga itu tampak menonjol karena berada di tanah yang cukup lapang di tepi jalan.

Bangunan dengan panjang sekitar 9 meter itu memang mengambil bentuk sepatu lars lengkap dengan rangkaian besi yang diibaratkan sebagai tali sepatu. Di tiap lantai diberi jendela, bahkan di lantai III ada balkon kecil dengan teralis pengaman.

Rumah itu diberi nomor 13. Itu angka kesukaan Jusuf. Dia menikah tanggal 13, dan banyak peristiwa dalam hidupnya berhubungan dengan angka itu. Membangun rumah berbentuk sepatu setinggi 13 meter itu pun dimulai pada tanggal 13.

“Banyak yang bilang aku gila membangun rumah ini. Tapi aku tidak peduli. Banyak tokoh yang awalnya dinilai gila, tapi mereka berhasil,” ucapnya.

Jusuf sudah membangun rumah ini selama 6 bulan, namun tidak terus-menerus. Terkadang dia kehabisan dana sehingga harus kembali ke Belanda untuk mengumpulkan uang. “Aku jadi turis guide di sana, uangnya halal,” ucapnya.

Jusuf memang sejak lama tinggal di Kota Hoofddorf, Belanda. “Sebelum pensiun, aku 32 tahun bekerja sebagai kuli kargo maskapai KLM di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda,” ucapnya.

Rumah berbentuk sepatu ini merupakan salah satu impian Jusuf. Dia mengidamkannya sejak muda, setelah melihat gambar rumah sepatu di India dalam satu majalah.

“Sepatu itu filosofinya melindungi. Makanya setelah melihat di majalah aku berniat untuk membangunnya suatu saat,” sebut Jusuf.

Tak puas hanya melihat di majalah, Jusuf muda juga berkeinginan melihat langsung rumah itu di India. Keinginan itu menjadi nyata saat dia mengelilingi dunia dengan sepeda.

“Setelah tak jadi pebalap sepeda Sumut, aku berkeliling dunia dengan sepeda. Aku melihat langsung rumah itu kalau tak salah di Mumbai,” ucapnya.

Keinginan keliling dunia dan membangun rumah sepatu itu diwujudkan Jusuf berdasarkan filosofi.

“Kita bukan James Bond yang hidup berkali-kali. Kita cuma hidup sekali, maka nikmatilah. Tapi usaha lah, kalau tak usaha mana mungkin berhasil,” kata laki-laki yang tampak senang berbicara ini.

Usaha Jusuf pun berbuah. Setelah menabung selama bertahun-tahun bekerja di Belanda, dia mulai membangun rumah impiannya.

“Sudah habis sekitar Rp 600 juta, ini masih banyak kekurangan. Mana ada yang sempurna,” ucap laki-laki kelahiran Berastagi 14 Maret 1944 ini.

Membangun rumah berbentuk sepatu itu tidak mudah. Tukangnya kesulitan membuat mal yang bentuknya melengkung. “Sulitnya ya membuat malnya. Banyak bagian yang melengkung. Untungnya saya pernah membangun kubah masjid yang dicor,” ucap Haryono, tukang yang dipercaya Jusuf.

Rumah berbentuk sepatu ini membuktikan kegigihan Jusuf. Setelah rumah itu rampung dia masih punya impian lain, yaitu menghijaukan lokasi itu dan membangun rumah berbentuk pesawat.

2. Terinspirasi dari usahanya, pengusaha sepatu bangun rumah sepatu

 

Terinspirasi dari usahanya, seorang pengusaha sepatu dari Pennsylvania, Amerika Serikat, Mahlon Haines, berinisiatif membangun rumah berbentuk sepatu pada tahun 1948. Dia memberi nama rumah uniknya tersebut Shoe House Road.

Awalnya, dia membangun rumah tersebut sebagai sarana usaha sepatunya. Tapi dibalik itu, ternyata Haines sudah memimpikan memiliki rumah sepatu dari kecil ketika sering mendengarkan cerita dongeng.

Di dalam rumah unik itu terdapat beberapa ruangan layaknya rumah pada umumnya. Seperti ruang tamu terletak di bagian jari, dapur berada di sol sepatu, kamar di bagian tumit, dan ada bangunan tambahan di bagian depan.

Namun, pada akhirnya rumah unik itu mengalami banyak peristiwa dan jatuh ke tangan banyak orang yang sempat memilikinya. Salah satu yang sempat membelinya adalah cucunya sendiri.

Kemudian pada tahun 2004 cucu Haines menjualnya kembali kepada pasangan Carleen dan Ronald Farabaugh. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, rumah sepatu ini menjadi bangunan wisata dan menarik banyak pengunjung

3. Wujud cinta terhadap istri, Zyl membangun rumah berbentuk sepatu

Ron Van Zyl, pria asal provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan, tersebut begitu mencintai istrinya bernama Yvonne. Sebagai bentuk rasa cintanya, Zyl membangun rumah berbentuk sepatu pada tahun 1990.

Rumah sepatu itu pun bukan tanpa alasan dia bangun. Sebab, Zyl mengetahui bahwa sang istri saat itu tengah menginginkan sebuah sepatu. Dan pada akhirnya dia membangun rumah unik tersebut yang berdinding batu. Dinding gua diukir sendiri oleh Ron dengan ukiran yang menakjubkan. Kini, rumah bertingkat itu diisi dengan hasil kesenian karya Ron.

Selain itu rumah tersebut menjadi ikon tempat wisata provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan. Tempat wisata ini juga menjadi bagian Gua Alfa Omega, sebuah tempat wisata yang sering digunakan sebagai pasangan tempat melangsungkan pernikahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *